Kamis, 20 Maret 2014

Harga Sebuah Kehamilan

Pernikahan saya dan istri menginjak bulan ke enam, dalam perut istri saya tuhan sudah menitipkan bakal kehidupan baru. perjalanan hiduppun mulai terasa menemukan keringatnya. Untuk seorang pengantin baru, sungguh sebuah tantangan yang bukan main melelahkan. Bulan pertama kehamilan istri saya, adalah sebuah jilid pertama yang cukup menyita seluruh perhatian kami. Belum saya merencanakan sebuah bulan madu yang indah. Kehamilan istri membuat saya harus menunda banyak hal. Pada trisemester pertama kehamilan istri saya, saya takjub pada hal-hal kecil yang dianugerahkan tuhan pada kehidupan awal kami. Hari ini, ada sesuatu yang bergerak gerak di perut istri saya, sebuah kehadiran yang mendesak untuk dikabarkan. Sebuah kehidupan kecil yang tumbuh dari hari-hari kami yang tenang. Saya dan istri sama sama terkonsentrasi pada bagian yang satu ini, segala konsep dirancang untuk menyiapkan “karpet merah” bagi kedatangan buah hati pertama kami. Karena, ia adalah sesuatu yang telah memberi kami sebuah penghayatan pada hidup dan memberi makna pada apa yang kami sebut “rumah tangga”. Waktu berjalan, apa yang kami terima sebagai anugerah, selalu menuntut sebuah tanggung jawab yang akan kami pikul sepanjang hidup. Hidup di zaman modern seperti saat ini memang tak mudah, paling tidak bagi seseorang dengan pendapatan ekonomi yang masih mencemaskan seperti saya. Betapa tidak, semua aktifitas yang kami berdua lakukan hampir tak ada yang tidak dikurung harga, tak terkecuali oleh harga sebuah kehamilan. Ia bisa berupa biaya periodik yang harus saya keluarkan setiap bulan ke bidan, pemenuhan gizi seimbang buah kolaborasi pengetahuan modern dan industri komoditas yang profokatif. Ditengah seabrek persoalan ekonomi yang mengobrak abrik anggaran rumah tangga kami, beragam rencana ekonomi jangka panjangpun mulai mendesak untuk segera dirumuskan, meski semua konsep perbaikan ekonomi hanya sebagai konsep yang membantu menghibur dan menyuplai energi dan sedikit gairah untuk menghadapi tantangan berikutnya. Memberi kami kelapangan untuk menghayati pencapaian-pencapaian kecil yang kami lakukan.. Tetapi, betapapun sulitnya.. tantangan ini menyadarkan kami pada satu hal, ia menguji kebersamaan kami.......

Jumat, 28 Februari 2014

Burung Moncrot

Dari sebuah pohon yang rindang, sesuatu jatuh mendarat tepat di kaca helmku, sebuah noda hijau terpacak di batang hidungku. Sepertinya Tuhan sedang menggodaku lewat seekor burung yang moncrot di pagi yang indah. Aku tertawa.. seekor burung pagi ini benar-benar sedang merendahkan sisi“kemanusiaan”ku. Hanyalah seekor burung dengan kotoran yang datang di waktu dan tempat yang tepat, jadilah ia sebuah pertunjukan yang menggembirakan, tapi juga bukan main lucunya.. menggembirakan karena ia hanyalah kotoran, dan bukan sebongkah batu yang dilontarkan Tuhan lewat ratusan burung bul bul... dan lucu karena dari sekian ribu pengendara yang kebetulan lewat di bawah pohon itu, seleksi alam dan mekanisme waktu telah mempertemukan aku dengan kotoran itu. Sebuah situasi yang jika dihitung tingkat probabilitas nya oleh para ahli matemata.. saya adalah satu orang dari ratusan kemungkinan yang bisa terjadi pagi itu. Begitulah cara Tuhan menimpuk rezeki yang manis di pagi ini. yang najis, jika ia datang dengan cara yang jenaka, ia menggembirakan. Tuhan itu lucu...

Jumat, 14 Februari 2014

Sore Di Wajah Ibu

Pada perjumpaan yang ringkas, aku menemui sore di wajah ibu, perempuan yang telah dianugerahkan Tuhan pada bapak dan anak-anak yang dilahirkannya, senja masih semerah saga, ibu masih menunggu sebuah warung, dunia kecil tempatnya melapalkan hidup dan membentang hari di atas tumpukan sayur, sesekali ibu ke dapur menemui didih air di atas tungku yang menyala ,... dari dapur yang tak jauh jarak dari warung, ibu melewati lelah tubuh bapak yang lunglai tidur di sebelah warung dengan mata yang terkubur kantuk, sisa letih yang dibawa tubuhnya dari petakan sawah, membawa hangat kopi susu untuk para penjudi waktu yang singgah di teras rumah.. Ibu memang terlalu tua untuk melakukan banyak hal, tapi cita-cita masih memintanya untuk tetap hidup dengan tangkas, putih rambutnya yang masai tak menyamarkan lembaran sejarah masa muda yang lampau tertinggal dalam kenangan, ibu selalu tampak sederhana duduk di halaman pagi yang kian mewah. ibu adalah seorang perempuan yang tegas, lantang, tajam, dan bangkit untuk sesuatu yang ia yakini, sebuah dialektika kelembutan bapak. tapi sore ini ibu mengalir tenang seperti senja yang diam-diam pulang..Aku menangkap sepasang pisau mata nya yang linang, malam tak bisa menyembunyikan tatapannya yang sembab. Layaknya seorang ibu, ia menyimpan air mata yang kerap runtuh ketika luka mengiris hidup anak anaknya, ketika rindu tak tuntas dilepas di ujung telpon, ketika tangannya yang renta rindu mendekap tubuh anak-anak nya di seberang kota, Semua yang pernah hidup dalam peluk ibuku, mengenal ketajaman nya, dan akan menjadi babak hidup yang menancap dalam ingatan..Pada perjumpaan yang tak terlalu lama ini, bahkan untuk menampung air matanya yang lalu luluh, aku tak sanggup... Di beranda yang tak jauh jarak dari sofa, ibu berbincang tentang apa saja, tentang esok yang selalu indah, atau tentang perangai waktu yang kian bedebah. Pada saat hari yang bebal sejenak ia lupakan, raut ibu masih menyimpan keriangan yang indah untuk dipanggungkan, meski sesekali matanya tampak sunyi dan murung di tepi waktu. Ia lembut dalam banyak tatap, apa yang nampak runcing dimatanya adalah sisa mimpi yang menjaga tumbuh dalam hidup yang ranggas. Layaknya seorang ibu, ia akan senantiasa lebur dalam dekap yang hangat. Senja memulangkan siang yang layu di wajah ibu.. aku menemui malam di matanya yang sayu... Agustus, 2013

Minggu, 12 Januari 2014

Kita, DIsuatu Ketika

Adalah Seorang perempuan penuh gegas memintas perjalanan.. pada sebuah jeda persinggahan tanpa kata dan tak menyimpan banyak gejolak. Aku mengenal keriangan yang lalu terurai dalam percakapan yang begitu ringkas. Kita pernah duduk menantang senja yang bertelaga, memanggil angin yang jatuh dipunggung dan menyapu rambutmu yang juntai.. dalam gigil itu, kau masih saja menyimpan sepasang pandang yang sempurna menyimpan rahasia…. Lekas kubawa degupnya ke pintu rumah, menuju hangat kopi meredam debar yang mengepung dada..indah rasanya membincang cita cita yang kita rekat dalam kisah kisah di atas meja, mendedah dunia di suatu ketika yang nikmat kita pahat dalam banyak raka’at… kita menemukan cara untuk tertawa, menemukan simponi dan berbagi kidung bersama rimbun daun yang menggoda di seberang jendela… Dan aku rindu pada dawai yang berdenting dari gitar yang kurapikan jemarinya……. menjaga nada di tempat yang tak pernah lentik jarimu beranjak….namun, suaraku tak anggun untuk bisa mengindahi keheningan yang kau sedekahi nada,.. ia menjadi sepotong cerita tentang lagu yang tak usai di tungkai malam yang lunglai…. Menuntaskan sisa hari yang menggantung di ujung jarum jam, pada sebuah malam yang lain, tanpa lagupun kau telah menjelma menjadi irama ... bersenandung di malam yang masih nanap…. Sebelum kita sua dengan hidup yang menghujam hari hari kita dengan tajam, mari sejenak kita kenang persinggahan itu.. karena segala keriangan itu sejatinya kita simpan.. untuk kita panggil pulang dalam ingatan, atau untuk sekedar kita pacak menjadi sajak...

Rabu, 26 Desember 2012

Kedai Pak Jum

Pada sebuah perjalanan pulang yang terkurung hujan aku menepi di sebuah kedai kopi berpayung terpal, kecil, dan sahaja menahan hujan jatuh ke tubuh orang-orang yang berlindung di teduhnya... aku sangka langit akan kering terjaga hingga hari menuju esok, hujan membuncah begitu cepat, sekejap saja, dibawah terpal orang-orang semakin mengerumun, merapat, berjama’ah menghindari hujan yang berhamburan..aktifitas alam tiba2 memberi ruang untuk saling berbagi tempat mengisi keteduhan yang sama. Sulit rasanya aku menggembirai kesempitan ini, demikian juga orang-orang yang sama-sama terseret hujan hingga ke tempat ini.. disebelah tenda ini, ada “pak Jum”, demikian salah seorang dari kerumunan memanggil kelincahan seorang tua yang mengisi jeda hujan di kedai kopi yang berdampingan dengan keteduhan ini.. ia tak muda, tapi dari caranya beredar di area hujan ini sungguh menyimpan pesona yang dalam bagiku... melompat, menerabas, meliuk, dan tiba2 menjelma di hadapanku dengan gelas gelas yang patuh berderet di baki nya... Hujan yang keredaannya sedang kudo’akan saat ini, kehadirannya tampak sedang dirayakan pak Jum dengan riang, penerimaanku atas hujan saja benderang berbeda dengan penerimaan pak Jum atas hujan yang menggembala nasibnya saat ini... mungkin ada tarik menarik do’a yang sore ini menuju Tuhan dari tempat ini. sementara aku masih merawat kekecewaan atas hujan yang tak pernah paham situasiku, butir2 hujan masih lincah mengggulung tubuh pak Jum yang melompat dan beredar ke sekujur jalan, mengantar kopi, dan menjaganya dari hujan yang yang jatuh Pada akhirnya hangat kopi yang disebrangkan pak Jum dalam gelas yang lancip,memberi aroma tersendiri pada gigil yang lama2 kudamaikan dibawah terpal, tak sempat aku tuntaskan kopiku.. aku putuskan melabrak hujan, dengan segenap tubuh yang kuikhlaskan pada hujan, sekedar meneladani dedikasi pak Jum pada hujan. .. satu persatu orang2 di kedai pak Jum pergi melawan hujan, sebagian mengisi ulang kesabarannya di gelas-gelas kopi. saling mengisi dan melepas melingkar berputar di bawah terpal pak Jum tempat Tuhan mengatur kebahagiaan Pak Jum, istri, dan anak-anaknya....

Selasa, 04 September 2012

Sepotong Lirik di Cover Album

Take Your Time, hurry up.. the choice is yours don’t be late (Kurt Cobain) di masa anak-anak, Sebait lirik itu saya temukan terselip di sampul sebuah cover album bersama potongan-potongan lirik dari lain lagu yang saling bertumpang tindih berbagi tempat , di secarik kertas yang membungkus kaset pita. Diantara yang bertumpang tindih, kalimat pendek itu seperti membesar dan mengecilkan potongan-potongan lirik lainnya, kebesaran maknanya mengantarkan energi yang kuat kedalam pikiran, merevolusi cara pandang saya yang gamang terhadap tawaran-tawaran nilai dan pilihan-pilihan hidup di sekitar saya. Pesan yang disampaikannya menyentil ruang kesadaran, tentang betapa hidup bukan saja soal memilih dan memutuskan yang saya emban secara otonom, tetapi soal kecepatan dalam bertindak. Untuk rentang waktu yang cukup panjang lagu itu menjadi teriakan yang menggugat segala kebimbangan yang melemahkan. Saya Seperti menemukan tumpuan untuk bertolak dan bangkit, kesederhanaan kata-katanya membuatnya menjadi kalimat yang mudah untuk dihadirkan kembali setiap saat dalam ingatan saya…… kalimat itu lantas tidak berhenti sebagai sepotong kalimat yang tuntas dan menghilang di ujung lagu.. tapi selalu menjadi ruh yang mendasari setiap keputusan-keputusan yang saya buat dalam hidup, mengatasi keragu-raguan yang begitu problematis… karena, disaat yang paling dilematis, ia menjadi perintah yang menggedor hati saya untuk selalu bangkit dan menjadi diri saya seutuhnya. Awalnya ia terselip dalam deretan lirik di sebuah cover album yang membungkus kaset pita, lalu ia terselip dalam kepala saya dan membungkus pikiran-pikiran saya untuk menggagas banyak hal dalam hidup yang serba cepat. secepat kurt mengendalikan kematian lewat butiran peluru di tangan nya..... sementara, lagunya masih mengalun melampaui kematiannya.... memoria............... (fade out)

TIK

Aku suka setiap bunyi “tik” dari deretan tombol pad setiap ia memacak huruf huruf yang melaju menjadi kata. Dalam sejarah kesunyianku.. bunyi ini memberi energi pada pikiran untuk menyusun kalimat-kalimat yang gelisah.. kadang ia kuterima sebagai risalah singkat yang menjelma menjadi semesta. mungkin dari bunyi ''tik''yang sama banyak orang menemukan dunianya yang indah. Bunyi kerdil ini hanya akan dibesarkan oleh kesunyian, seperti juga inspirasi yang membiak ketika kesunyian memberi kita keleluasaan untuk mendengar hal hal yang tersembunyi. “tik” “tik” “tik” Aku mengetik di atas pad…….jksdshdfkjfhieuhefjkdnmfvjdfgjherhefuyteiorutowitperoietotioitoetportportititjggjdgdjgdgdjfgdkfjgdjfgkdfjggghhgkdjsgwiughwuetyireutoertorofjjfofjfjkdfjs,dhksf………….. dan, sunyipun menjadi rumit....

Kamis, 01 Oktober 2009

jendela

Waktu kecil aku selalu berteman dengan jendela di pagi hari yang basah..Karena tepat diseberang jendela, rimbun pohon yang dihuni sekawanan burung yang bergembira akan melepaskan suaranya yang ramai..
Waktu itu pagi memiliki cita rasa yang sangat istimewa dan sensasional..kerap aku mematung di bidang yang menjadi sekat antara ruang kamarku dan halaman rumah yang…
Di pagi hari jendela akan mempertemukan wajahku yang kusut dengan binar matahari yang menerobos hingga ke dindingkamar..lalu aku berusaha mengidentifikasi dunia di luar jendela dan mencoba menjadi bagian darinya..
Pada waktu, tempat, dan situasi yang tak sama, sekat itu memberi efek serta pesona yang tak sama…Jika di masa kecilku jendela akan mengantarkan pada permai kehidupan nan anggun, dan menjadi pertautan sakral antara jiwaku dengan alam. Pagi ini, di balik jendela aku menuliskan matahari yang murung..diantara klakson yang bertempur mencari jalan,dengan gerutu para para pejalan kaki di trotoar, atau dengan deru mesin yang menelan ketentraman..
Kali ini, jendela di pagi hari mempertemukan aku dengan pagi yang sumbang..karena burung burung itu pergi ke timur dan mereka bertengger di atap pabrik..
Dan..jendela pagi ini memberiku cita-cita untuk berlari ke masa lalu….

Kamis, 17 September 2009

catatan cinta buat bapak

pada usiamu yang senja,selayaknya waktu kau tampung dengan rebah lelah buah panjang perjalanan yang kau taklukan dengan gemilang, dengan warna warni hidup yang telah kau taburkan. Hidup tak semestinya kau tafsir sebagai rentang pertarungan yang abadi.

getar suaramu mulai retak, tapi sungguh tak merusak citra kata yang acap mendobrak.
telingamu sudah tak lengkap menangkap suara dikejauhan... tapi kau tetap mampu mendengar suara anak anakmu yang tersembunyi....
matamu kian tersembunyi dibalik keriput yang mengkerut disudutkan waktu....
tapi pandanganmu masih mengiring nan anggun
aku percaya jiwamu akan semakin kuat mengindera kehidupan yang tak tenang....

bapak melewati tajam perjalanan bukan dengan tanpa cedera, aku seperti juga anak anak yang kau tanam dari cinta yang luhur acap membuatmu tertatih, tapi aku yakin kau tak pernah merintih...
kau membuatku menjadu anak anak yang tumbuh dalam hasrat...
kau membaptisku menjadu anak anak yang bermimpi...
dengan tubuh yang getas bapak masih mendayung kehidupan seolah bapak menerjang bandang yang menyerang...
betapa diam adalah binasa...... dan berhenti melemahkan, katamu... aku paham itu akhirnya...

bapak..
aku rindu kita duduk berhimpun, berceritera, atau untuk sekedar mendengarmu berdendang tentang negeri para binatang ..selalu ada petuah langit yang menetas dari setiap cerita yang kau dendangkan..dan kau serupa sang nabi yang dikelilingi sekumpulan jiwa yang sesat...nun jauh disana ada seekor kura kura yang mampu melawan keterbatasan, atau sang kancil yang cerdik menyelamatkan diri dari maut ke maut, atau seekor kera yang luput menerka kegagalan...dan burung yang mencintai langit..
aku suka suka setiap penggalan cerita itu... kerena ternyata...aku tersadar jika bapak layaknya seekor kura kura yang mampu berlari kencang melampaui keterbatasan, bapak adalah kancil yang tak gentar di kurung taring. yang lembut mengatup rahang segala dendam...

pak..
aku sangat rindu saat rumah ini menjadi sesak dengan tangis dan tawa yang menjadi sepadan dalam memberi kenangan bahagia..
adakah kau terlelap..karena tak ada riuh gaduh anak anak yang membangunkan tidurmu, rumah ini sekarang hanya menjadi ruang kosong yang memantulkan beragam peristiwa

aku hanya bisa meletakan rindu ini pada sebuah catatan yang sunyi....

Minggu, 13 September 2009

suntuk

kutuk saja.....
jika malammu tiba dengan bedebah..
ia tak bisa mencumbuimu... atau memanggil tubuhmu terlentang...
karena kita terbiasa dengan benderang terang yang mencumbui dan memanggil tubuh kita untuk membentang di bawah matahari.. yang tak pernah membakar atau membuat kita berlari...
esok kutemui kau disana.....

Sabtu, 25 Juli 2009

Kenang

Terlalu pagi kau bersembunyi dari matahari
Sementara kau tak cukup puas mengenali teriknya langit
ma’af jika aku tak pernah bisa menjawab butir air matamu yang mengering sebelum kau usaikan cerita..
Bahkan senyumu pun aku tak pernah bisa membahasakannya…
aku tak pernah tahu jika saat itu aku sedang dihampiri gigil tubuhmu yang berceritera tentang kematian…
tapi Kau tangkas dalam memerdekaan dirimu dari ketakutan..
Aku tak sempat membaca lembaran luka yang lalu tuntas di bawah nisan.....

Sabtu, 23 Mei 2009

Gerimis


malam ini awan menangisiku di sepanjang jalan menuju rumah, derasnya membuat tubuhku menyimpan kuyup yang tebal hingga aku tiba di beranda rumah.. aku tak pernah ingin berhenti meski sejenak berharap langit mau berbaik hati dan berhenti menangis. Aku tahu langit tak akan mengering sampai aku tiba di sini dan mengutuk basah. beruntung Tubuhku telah memiliki sistem pertahanan yang telah menyelamatkan aku dari musim ke musim……

Esok hujan bahkan tak akan membuatku bangkit lebih lambat di pagi yang tak cerah ..atau akan membuatku bersembunyi seperti katak yang mencari gelap di sudut kamar….
masih ada Kopi kadaluarsa, berbatang rokok, serta gitar untuk lagu yang tak pernah usai kutuliskan karena musik di radio selalu saja menyela setiap gagasan yang terbit dengan tiba –tiba di kepalaku..

Malam ini aku malas melepas lembab di bajuku karena kopi hangatpun masih bisa membuat temperatur tubuhku meningkat lebih cepat dan mengusir lembab di tubuhku…. Oh tuhan, pun aku malas untuk menuang air ke dalam cangkir yang rengat.

Biasanya saat saat seperti ini kantuk akan menggusurku lebih cepat ke dasar mimpi, kamar kubuat remang dengan sepotong kaus yang mengurung pijar lampu. langit - langit menjadi suram, di atas lampu.. sembarang jaring laba-laba yang terselamatkan bergelayut cemas, di selimuti debu yang kusam. aku muak dengan ruang sempit ini, entah karena kamar atau perut yang lapar yang membuatku gusar, atau karena butir air yang menyelinap dari genting kamar jatuh berantakan di lantai kamar.

tapi akhirnya aku lelap dan berhenti menggerutu pada wajah kamar yang luka.....

Kamis, 26 Maret 2009

di remang kamar


pagipun kembali bangkit dengan pijar yang menetas dari kesendirian, remang lampu masih membimbing mataku untuk tetap terjaga dan menelantarkan mimpi di langit-langit kamar tempat aku biasa berbagi jika sunyi menjenguk malam-malamku yang resah...
selalu ada penat terpahat seperti butir kerikil yang membuat otakku enggan menjadi tumbuh..mungkin karena kisah kusam yang ku panggil dari masa lalu, atau karena celotehmu masih menghuni pikiran yang membuat hatiku menjadi rimbun oleh rindu yang membuat malamku menjadi panjang penuh debar...atau mungkin hanya karena sebatang rokok yang hilang ditanam di jantungku....

aku menuliskan sepiku pada hamparan langit yang mengirim gerimis ke atap kamarku, sebagian jatuh dan mencari sungai,lainnya merenung di sumur-sumur dan mengawini tanah...

pagipun bergegas naik .. aku masih merayu mataku agar tetap terjaga meski hanya untuk berbait syair yang belum kutuliskan...padahal, di ketinggian, langit telah memanggil pendar matahari... menghimpun sekumpulan awan yang tenang ...

pagipun kembali bangkit.. dengan syair yang menetas dari kesendirian.....


25 Maret 2009

Rabu, 11 Maret 2009

Catatan Kematian Seorang Sahabat………………

Empat tahun yang lalu aku berjumpa dengan keremajaanmu…tak ada sorot kematian yang mengintai masa mudamu yang penuh dengan catatan hidup yang tebal, dulu kau masih saja mengantarkan wajahmu pada tiap langit senja di halaman rumah dengan setebal alis yang tegas, karena rambut yang biasa menutupinya kau ikatkan, hingga kau biarkan aku menyunting lehermu yang jenjang..

senja itu kau mengenalkanku pada impian-impian mudamu, nikmat kita mengurai percakapan di tiang sungai yang tak pernah berhenti bergemuruh, aku sangat terbiasa mengenal kesederhanaanmu di sana
dijalan itu kau masih saja berlalu diantara kerumunan orang orang yang lelah,,,deras peluh siang hari tak pernah membuatmu gaduh..panjang tubuhmu kerap menerobos lalu lintas orang-orang disana membuatku gentar menatap semangat dibaliknya..

banyak kisah tersimpan dan tak terujarkan jauh bersemayam di kedalaman hatiku.. aku menyimpannya dalam dalam, aku membiarkannya menjadi senyap..meski ruang dalam diriku selalu menerka hal yang sama dalam dirimu…aku tak pernah tahu kapan harus aku tuntaskan kemunafikan ini, aku hanya mem biarkan rahasia hatiku terurai dari mata yang menatapi wajah ovalmu, dari caraku menyapamu dalam keheningan malam , atau dari caraku menuntun hatimu untuk menemukan sungging senyum bahagia dari hatiku yang dilahirkan dari persenggamaan kata – kata…dan aku selalu takut melontarkannya menjadi kalimat – kalimat cinta…

aku tak pernah ingin membuat perjalanan ini menjadi begitu berliku…meski aku tau kau mulai bosan membaca peta perjalanan yang samar…sementara kau tak bisa mengusir harapan ibumu yang selalu singgah di sela percakapan ,,,sampai kau menemukan gerbang perjalanan hidup dari bahu seorang lelaki yang memecah kegamangan…. Meski selalu saja liku perjalanannya mengancam kebahagiaan yang tak pernah kau yakini akan lahir bersamanya… tapi kau selalu berharap “semoga”….. dan itu adalah kalimat terakhir yang giat kau lontarkan sebelum akhirnya kau tak akan pernah bisa mengatakannya selamanya……..

kau bergelut dengan impian dan kematian, bahkan pada saat kau harus berusaha tersenyum di pelaminan yang memberimu impian….. dan kau melakukannya dengan tegar…
aku tak bisa meneladani kekuatan dalam batinmu itu….
aku tinggalkan cerita ini seperti kau yang kini meninggalkan kehidupan yang samar bagiku,,,, pada saat aku takut mengurai perasaan, kau memeberiku rahasia yang termaktub dalam hatimu, hingga aku hanya bisa tuliskan ini dalam sejarah kisah lebam dalam hidupku, aku terlambat meyakinkanmu bahwa aku memiliki perih yang sama…aku memiliki impian yang sama… dan aku memiliki cinta yang sama….

Beristirahatlah dengan tenang….…. mungkin karena kebahagiaan disana harus lebih cepat kau dapatkan, hingga Tuhan harus menjemputmu dari kehidupan yang samar

Selamat Jalan ka………………………………..

Senin, 09 Maret 2009

selamat pagi

jika langit memanggil mentari yang tertidur di gunung gunung....
juga ia memanggilmu untuk tumbuh lebih cerah di pagi yang indah...

Minggu, 22 Februari 2009

dunia di matamu

kau melahirkan jiwaku di sebuah telaga….
seperti perahu yang mengabdi pada arah angin…
jiwaku mengabdi pada nyanyian yang tersembunyi di balik matamu….
aku ingin membuatkan sebuah telaga di benakmu..
mesti kelak kau keringkan kisahnya….
senyumu tak pernah bisa menghardik mataku untuk menghindari sunggingnya…
karena ia lebih tajam dari matahari yang membakar tubuh kita siang ini…..

kenang

Kau terlalu pagi untuk bersembunyi dari matahari

Sementara wajahmu masih lebih hangat darinya….

Ma’af aku tak pernah bisa menjawab air matamu

Bahkan senyumu pun aku tak pernah bisa membahasakannya…

Kerap aku dihampiri gigil tubuhmu yang berceritera tentang kematian…

Kau tangkas dalam memerdekaan dirimu dari ketakutan..

Aku tak pernah belajar dari celotehmu yang giat menetaskan perasan