Minggu, 12 Januari 2014

Kita, DIsuatu Ketika

Adalah Seorang perempuan penuh gegas memintas perjalanan.. pada sebuah jeda persinggahan tanpa kata dan tak menyimpan banyak gejolak. Aku mengenal keriangan yang lalu terurai dalam percakapan yang begitu ringkas. Kita pernah duduk menantang senja yang bertelaga, memanggil angin yang jatuh dipunggung dan menyapu rambutmu yang juntai.. dalam gigil itu, kau masih saja menyimpan sepasang pandang yang sempurna menyimpan rahasia…. Lekas kubawa degupnya ke pintu rumah, menuju hangat kopi meredam debar yang mengepung dada..indah rasanya membincang cita cita yang kita rekat dalam kisah kisah di atas meja, mendedah dunia di suatu ketika yang nikmat kita pahat dalam banyak raka’at… kita menemukan cara untuk tertawa, menemukan simponi dan berbagi kidung bersama rimbun daun yang menggoda di seberang jendela… Dan aku rindu pada dawai yang berdenting dari gitar yang kurapikan jemarinya……. menjaga nada di tempat yang tak pernah lentik jarimu beranjak….namun, suaraku tak anggun untuk bisa mengindahi keheningan yang kau sedekahi nada,.. ia menjadi sepotong cerita tentang lagu yang tak usai di tungkai malam yang lunglai…. Menuntaskan sisa hari yang menggantung di ujung jarum jam, pada sebuah malam yang lain, tanpa lagupun kau telah menjelma menjadi irama ... bersenandung di malam yang masih nanap…. Sebelum kita sua dengan hidup yang menghujam hari hari kita dengan tajam, mari sejenak kita kenang persinggahan itu.. karena segala keriangan itu sejatinya kita simpan.. untuk kita panggil pulang dalam ingatan, atau untuk sekedar kita pacak menjadi sajak...

Rabu, 26 Desember 2012

Kedai Pak Jum

Pada sebuah perjalanan pulang yang terkurung hujan aku menepi di sebuah kedai kopi berpayung terpal, kecil, dan sahaja menahan hujan jatuh ke tubuh orang-orang yang berlindung di teduhnya... aku sangka langit akan kering terjaga hingga hari menuju esok, hujan membuncah begitu cepat, sekejap saja, dibawah terpal orang-orang semakin mengerumun, merapat, berjama’ah menghindari hujan yang berhamburan..aktifitas alam tiba2 memberi ruang untuk saling berbagi tempat mengisi keteduhan yang sama. Sulit rasanya aku menggembirai kesempitan ini, demikian juga orang-orang yang sama-sama terseret hujan hingga ke tempat ini.. disebelah tenda ini, ada “pak Jum”, demikian salah seorang dari kerumunan memanggil kelincahan seorang tua yang mengisi jeda hujan di kedai kopi yang berdampingan dengan keteduhan ini.. ia tak muda, tapi dari caranya beredar di area hujan ini sungguh menyimpan pesona yang dalam bagiku... melompat, menerabas, meliuk, dan tiba2 menjelma di hadapanku dengan gelas gelas yang patuh berderet di baki nya... Hujan yang keredaannya sedang kudo’akan saat ini, kehadirannya tampak sedang dirayakan pak Jum dengan riang, penerimaanku atas hujan saja benderang berbeda dengan penerimaan pak Jum atas hujan yang menggembala nasibnya saat ini... mungkin ada tarik menarik do’a yang sore ini menuju Tuhan dari tempat ini. sementara aku masih merawat kekecewaan atas hujan yang tak pernah paham situasiku, butir2 hujan masih lincah mengggulung tubuh pak Jum yang melompat dan beredar ke sekujur jalan, mengantar kopi, dan menjaganya dari hujan yang yang jatuh Pada akhirnya hangat kopi yang disebrangkan pak Jum dalam gelas yang lancip,memberi aroma tersendiri pada gigil yang lama2 kudamaikan dibawah terpal, tak sempat aku tuntaskan kopiku.. aku putuskan melabrak hujan, dengan segenap tubuh yang kuikhlaskan pada hujan, sekedar meneladani dedikasi pak Jum pada hujan. .. satu persatu orang2 di kedai pak Jum pergi melawan hujan, sebagian mengisi ulang kesabarannya di gelas-gelas kopi. saling mengisi dan melepas melingkar berputar di bawah terpal pak Jum tempat Tuhan mengatur kebahagiaan Pak Jum, istri, dan anak-anaknya....

Selasa, 04 September 2012

Sepotong Lirik di Cover Album

Take Your Time, hurry up.. the choice is yours don’t be late (Kurt Cobain) di masa anak-anak, Sebait lirik itu saya temukan terselip di sampul sebuah cover album bersama potongan-potongan lirik dari lain lagu yang saling bertumpang tindih berbagi tempat , di secarik kertas yang membungkus kaset pita. Diantara yang bertumpang tindih, kalimat pendek itu seperti membesar dan mengecilkan potongan-potongan lirik lainnya, kebesaran maknanya mengantarkan energi yang kuat kedalam pikiran, merevolusi cara pandang saya yang gamang terhadap tawaran-tawaran nilai dan pilihan-pilihan hidup di sekitar saya. Pesan yang disampaikannya menyentil ruang kesadaran, tentang betapa hidup bukan saja soal memilih dan memutuskan yang saya emban secara otonom, tetapi soal kecepatan dalam bertindak. Untuk rentang waktu yang cukup panjang lagu itu menjadi teriakan yang menggugat segala kebimbangan yang melemahkan. Saya Seperti menemukan tumpuan untuk bertolak dan bangkit, kesederhanaan kata-katanya membuatnya menjadi kalimat yang mudah untuk dihadirkan kembali setiap saat dalam ingatan saya…… kalimat itu lantas tidak berhenti sebagai sepotong kalimat yang tuntas dan menghilang di ujung lagu.. tapi selalu menjadi ruh yang mendasari setiap keputusan-keputusan yang saya buat dalam hidup, mengatasi keragu-raguan yang begitu problematis… karena, disaat yang paling dilematis, ia menjadi perintah yang menggedor hati saya untuk selalu bangkit dan menjadi diri saya seutuhnya. Awalnya ia terselip dalam deretan lirik di sebuah cover album yang membungkus kaset pita, lalu ia terselip dalam kepala saya dan membungkus pikiran-pikiran saya untuk menggagas banyak hal dalam hidup yang serba cepat. secepat kurt mengendalikan kematian lewat butiran peluru di tangan nya..... sementara, lagunya masih mengalun melampaui kematiannya.... memoria............... (fade out)

TIK

Aku suka setiap bunyi “tik” dari deretan tombol pad setiap ia memacak huruf huruf yang melaju menjadi kata. Dalam sejarah kesunyianku.. bunyi ini memberi energi pada pikiran untuk menyusun kalimat-kalimat yang gelisah.. kadang ia kuterima sebagai risalah singkat yang menjelma menjadi semesta. mungkin dari bunyi ''tik''yang sama banyak orang menemukan dunianya yang indah. Bunyi kerdil ini hanya akan dibesarkan oleh kesunyian, seperti juga inspirasi yang membiak ketika kesunyian memberi kita keleluasaan untuk mendengar hal hal yang tersembunyi. “tik” “tik” “tik” Aku mengetik di atas pad…….jksdshdfkjfhieuhefjkdnmfvjdfgjherhefuyteiorutowitperoietotioitoetportportititjggjdgdjgdgdjfgdkfjgdjfgkdfjggghhgkdjsgwiughwuetyireutoertorofjjfofjfjkdfjs,dhksf………….. dan, sunyipun menjadi rumit....

Kamis, 01 Oktober 2009

jendela

Waktu kecil aku selalu berteman dengan jendela di pagi hari yang basah..Karena tepat diseberang jendela, rimbun pohon yang dihuni sekawanan burung yang bergembira akan melepaskan suaranya yang ramai..
Waktu itu pagi memiliki cita rasa yang sangat istimewa dan sensasional..kerap aku mematung di bidang yang menjadi sekat antara ruang kamarku dan halaman rumah yang…
Di pagi hari jendela akan mempertemukan wajahku yang kusut dengan binar matahari yang menerobos hingga ke dindingkamar..lalu aku berusaha mengidentifikasi dunia di luar jendela dan mencoba menjadi bagian darinya..
Pada waktu, tempat, dan situasi yang tak sama, sekat itu memberi efek serta pesona yang tak sama…Jika di masa kecilku jendela akan mengantarkan pada permai kehidupan nan anggun, dan menjadi pertautan sakral antara jiwaku dengan alam. Pagi ini, di balik jendela aku menuliskan matahari yang murung..diantara klakson yang bertempur mencari jalan,dengan gerutu para para pejalan kaki di trotoar, atau dengan deru mesin yang menelan ketentraman..
Kali ini, jendela di pagi hari mempertemukan aku dengan pagi yang sumbang..karena burung burung itu pergi ke timur dan mereka bertengger di atap pabrik..
Dan..jendela pagi ini memberiku cita-cita untuk berlari ke masa lalu….

Kamis, 17 September 2009

catatan cinta buat bapak

pada usiamu yang senja,selayaknya waktu kau tampung dengan rebah lelah buah panjang perjalanan yang kau taklukan dengan gemilang, dengan warna warni hidup yang telah kau taburkan. Hidup tak semestinya kau tafsir sebagai rentang pertarungan yang abadi.

getar suaramu mulai retak, tapi sungguh tak merusak citra kata yang acap mendobrak.
telingamu sudah tak lengkap menangkap suara dikejauhan... tapi kau tetap mampu mendengar suara anak anakmu yang tersembunyi....
matamu kian tersembunyi dibalik keriput yang mengkerut disudutkan waktu....
tapi pandanganmu masih mengiring nan anggun
aku percaya jiwamu akan semakin kuat mengindera kehidupan yang tak tenang....

bapak melewati tajam perjalanan bukan dengan tanpa cedera, aku seperti juga anak anak yang kau tanam dari cinta yang luhur acap membuatmu tertatih, tapi aku yakin kau tak pernah merintih...
kau membuatku menjadu anak anak yang tumbuh dalam hasrat...
kau membaptisku menjadu anak anak yang bermimpi...
dengan tubuh yang getas bapak masih mendayung kehidupan seolah bapak menerjang bandang yang menyerang...
betapa diam adalah binasa...... dan berhenti melemahkan, katamu... aku paham itu akhirnya...

bapak..
aku rindu kita duduk berhimpun, berceritera, atau untuk sekedar mendengarmu berdendang tentang negeri para binatang ..selalu ada petuah langit yang menetas dari setiap cerita yang kau dendangkan..dan kau serupa sang nabi yang dikelilingi sekumpulan jiwa yang sesat...nun jauh disana ada seekor kura kura yang mampu melawan keterbatasan, atau sang kancil yang cerdik menyelamatkan diri dari maut ke maut, atau seekor kera yang luput menerka kegagalan...dan burung yang mencintai langit..
aku suka suka setiap penggalan cerita itu... kerena ternyata...aku tersadar jika bapak layaknya seekor kura kura yang mampu berlari kencang melampaui keterbatasan, bapak adalah kancil yang tak gentar di kurung taring. yang lembut mengatup rahang segala dendam...

pak..
aku sangat rindu saat rumah ini menjadi sesak dengan tangis dan tawa yang menjadi sepadan dalam memberi kenangan bahagia..
adakah kau terlelap..karena tak ada riuh gaduh anak anak yang membangunkan tidurmu, rumah ini sekarang hanya menjadi ruang kosong yang memantulkan beragam peristiwa

aku hanya bisa meletakan rindu ini pada sebuah catatan yang sunyi....

Minggu, 13 September 2009

suntuk

kutuk saja.....
jika malammu tiba dengan bedebah..
ia tak bisa mencumbuimu... atau memanggil tubuhmu terlentang...
karena kita terbiasa dengan benderang terang yang mencumbui dan memanggil tubuh kita untuk membentang di bawah matahari.. yang tak pernah membakar atau membuat kita berlari...
esok kutemui kau disana.....