Selasa, 04 September 2012

Sepotong Lirik di Cover Album

Take Your Time, hurry up.. the choice is yours don’t be late (Kurt Cobain) di masa anak-anak, Sebait lirik itu saya temukan terselip di sampul sebuah cover album bersama potongan-potongan lirik dari lain lagu yang saling bertumpang tindih berbagi tempat , di secarik kertas yang membungkus kaset pita. Diantara yang bertumpang tindih, kalimat pendek itu seperti membesar dan mengecilkan potongan-potongan lirik lainnya, kebesaran maknanya mengantarkan energi yang kuat kedalam pikiran, merevolusi cara pandang saya yang gamang terhadap tawaran-tawaran nilai dan pilihan-pilihan hidup di sekitar saya. Pesan yang disampaikannya menyentil ruang kesadaran, tentang betapa hidup bukan saja soal memilih dan memutuskan yang saya emban secara otonom, tetapi soal kecepatan dalam bertindak. Untuk rentang waktu yang cukup panjang lagu itu menjadi teriakan yang menggugat segala kebimbangan yang melemahkan. Saya Seperti menemukan tumpuan untuk bertolak dan bangkit, kesederhanaan kata-katanya membuatnya menjadi kalimat yang mudah untuk dihadirkan kembali setiap saat dalam ingatan saya…… kalimat itu lantas tidak berhenti sebagai sepotong kalimat yang tuntas dan menghilang di ujung lagu.. tapi selalu menjadi ruh yang mendasari setiap keputusan-keputusan yang saya buat dalam hidup, mengatasi keragu-raguan yang begitu problematis… karena, disaat yang paling dilematis, ia menjadi perintah yang menggedor hati saya untuk selalu bangkit dan menjadi diri saya seutuhnya. Awalnya ia terselip dalam deretan lirik di sebuah cover album yang membungkus kaset pita, lalu ia terselip dalam kepala saya dan membungkus pikiran-pikiran saya untuk menggagas banyak hal dalam hidup yang serba cepat. secepat kurt mengendalikan kematian lewat butiran peluru di tangan nya..... sementara, lagunya masih mengalun melampaui kematiannya.... memoria............... (fade out)

TIK

Aku suka setiap bunyi “tik” dari deretan tombol pad setiap ia memacak huruf huruf yang melaju menjadi kata. Dalam sejarah kesunyianku.. bunyi ini memberi energi pada pikiran untuk menyusun kalimat-kalimat yang gelisah.. kadang ia kuterima sebagai risalah singkat yang menjelma menjadi semesta. mungkin dari bunyi ''tik''yang sama banyak orang menemukan dunianya yang indah. Bunyi kerdil ini hanya akan dibesarkan oleh kesunyian, seperti juga inspirasi yang membiak ketika kesunyian memberi kita keleluasaan untuk mendengar hal hal yang tersembunyi. “tik” “tik” “tik” Aku mengetik di atas pad…….jksdshdfkjfhieuhefjkdnmfvjdfgjherhefuyteiorutowitperoietotioitoetportportititjggjdgdjgdgdjfgdkfjgdjfgkdfjggghhgkdjsgwiughwuetyireutoertorofjjfofjfjkdfjs,dhksf………….. dan, sunyipun menjadi rumit....

Kamis, 01 Oktober 2009

jendela

Waktu kecil aku selalu berteman dengan jendela di pagi hari yang basah..Karena tepat diseberang jendela, rimbun pohon yang dihuni sekawanan burung yang bergembira akan melepaskan suaranya yang ramai..
Waktu itu pagi memiliki cita rasa yang sangat istimewa dan sensasional..kerap aku mematung di bidang yang menjadi sekat antara ruang kamarku dan halaman rumah yang…
Di pagi hari jendela akan mempertemukan wajahku yang kusut dengan binar matahari yang menerobos hingga ke dindingkamar..lalu aku berusaha mengidentifikasi dunia di luar jendela dan mencoba menjadi bagian darinya..
Pada waktu, tempat, dan situasi yang tak sama, sekat itu memberi efek serta pesona yang tak sama…Jika di masa kecilku jendela akan mengantarkan pada permai kehidupan nan anggun, dan menjadi pertautan sakral antara jiwaku dengan alam. Pagi ini, di balik jendela aku menuliskan matahari yang murung..diantara klakson yang bertempur mencari jalan,dengan gerutu para para pejalan kaki di trotoar, atau dengan deru mesin yang menelan ketentraman..
Kali ini, jendela di pagi hari mempertemukan aku dengan pagi yang sumbang..karena burung burung itu pergi ke timur dan mereka bertengger di atap pabrik..
Dan..jendela pagi ini memberiku cita-cita untuk berlari ke masa lalu….

Kamis, 17 September 2009

catatan cinta buat bapak

pada usiamu yang senja,selayaknya waktu kau tampung dengan rebah lelah buah panjang perjalanan yang kau taklukan dengan gemilang, dengan warna warni hidup yang telah kau taburkan. Hidup tak semestinya kau tafsir sebagai rentang pertarungan yang abadi.

getar suaramu mulai retak, tapi sungguh tak merusak citra kata yang acap mendobrak.
telingamu sudah tak lengkap menangkap suara dikejauhan... tapi kau tetap mampu mendengar suara anak anakmu yang tersembunyi....
matamu kian tersembunyi dibalik keriput yang mengkerut disudutkan waktu....
tapi pandanganmu masih mengiring nan anggun
aku percaya jiwamu akan semakin kuat mengindera kehidupan yang tak tenang....

bapak melewati tajam perjalanan bukan dengan tanpa cedera, aku seperti juga anak anak yang kau tanam dari cinta yang luhur acap membuatmu tertatih, tapi aku yakin kau tak pernah merintih...
kau membuatku menjadu anak anak yang tumbuh dalam hasrat...
kau membaptisku menjadu anak anak yang bermimpi...
dengan tubuh yang getas bapak masih mendayung kehidupan seolah bapak menerjang bandang yang menyerang...
betapa diam adalah binasa...... dan berhenti melemahkan, katamu... aku paham itu akhirnya...

bapak..
aku rindu kita duduk berhimpun, berceritera, atau untuk sekedar mendengarmu berdendang tentang negeri para binatang ..selalu ada petuah langit yang menetas dari setiap cerita yang kau dendangkan..dan kau serupa sang nabi yang dikelilingi sekumpulan jiwa yang sesat...nun jauh disana ada seekor kura kura yang mampu melawan keterbatasan, atau sang kancil yang cerdik menyelamatkan diri dari maut ke maut, atau seekor kera yang luput menerka kegagalan...dan burung yang mencintai langit..
aku suka suka setiap penggalan cerita itu... kerena ternyata...aku tersadar jika bapak layaknya seekor kura kura yang mampu berlari kencang melampaui keterbatasan, bapak adalah kancil yang tak gentar di kurung taring. yang lembut mengatup rahang segala dendam...

pak..
aku sangat rindu saat rumah ini menjadi sesak dengan tangis dan tawa yang menjadi sepadan dalam memberi kenangan bahagia..
adakah kau terlelap..karena tak ada riuh gaduh anak anak yang membangunkan tidurmu, rumah ini sekarang hanya menjadi ruang kosong yang memantulkan beragam peristiwa

aku hanya bisa meletakan rindu ini pada sebuah catatan yang sunyi....

Minggu, 13 September 2009

suntuk

kutuk saja.....
jika malammu tiba dengan bedebah..
ia tak bisa mencumbuimu... atau memanggil tubuhmu terlentang...
karena kita terbiasa dengan benderang terang yang mencumbui dan memanggil tubuh kita untuk membentang di bawah matahari.. yang tak pernah membakar atau membuat kita berlari...
esok kutemui kau disana.....

Sabtu, 25 Juli 2009

Kenang

Terlalu pagi kau bersembunyi dari matahari
Sementara kau tak cukup puas mengenali teriknya langit
ma’af jika aku tak pernah bisa menjawab butir air matamu yang mengering sebelum kau usaikan cerita..
Bahkan senyumu pun aku tak pernah bisa membahasakannya…
aku tak pernah tahu jika saat itu aku sedang dihampiri gigil tubuhmu yang berceritera tentang kematian…
tapi Kau tangkas dalam memerdekaan dirimu dari ketakutan..
Aku tak sempat membaca lembaran luka yang lalu tuntas di bawah nisan.....

Sabtu, 23 Mei 2009

Gerimis


malam ini awan menangisiku di sepanjang jalan menuju rumah, derasnya membuat tubuhku menyimpan kuyup yang tebal hingga aku tiba di beranda rumah.. aku tak pernah ingin berhenti meski sejenak berharap langit mau berbaik hati dan berhenti menangis. Aku tahu langit tak akan mengering sampai aku tiba di sini dan mengutuk basah. beruntung Tubuhku telah memiliki sistem pertahanan yang telah menyelamatkan aku dari musim ke musim……

Esok hujan bahkan tak akan membuatku bangkit lebih lambat di pagi yang tak cerah ..atau akan membuatku bersembunyi seperti katak yang mencari gelap di sudut kamar….
masih ada Kopi kadaluarsa, berbatang rokok, serta gitar untuk lagu yang tak pernah usai kutuliskan karena musik di radio selalu saja menyela setiap gagasan yang terbit dengan tiba –tiba di kepalaku..

Malam ini aku malas melepas lembab di bajuku karena kopi hangatpun masih bisa membuat temperatur tubuhku meningkat lebih cepat dan mengusir lembab di tubuhku…. Oh tuhan, pun aku malas untuk menuang air ke dalam cangkir yang rengat.

Biasanya saat saat seperti ini kantuk akan menggusurku lebih cepat ke dasar mimpi, kamar kubuat remang dengan sepotong kaus yang mengurung pijar lampu. langit - langit menjadi suram, di atas lampu.. sembarang jaring laba-laba yang terselamatkan bergelayut cemas, di selimuti debu yang kusam. aku muak dengan ruang sempit ini, entah karena kamar atau perut yang lapar yang membuatku gusar, atau karena butir air yang menyelinap dari genting kamar jatuh berantakan di lantai kamar.

tapi akhirnya aku lelap dan berhenti menggerutu pada wajah kamar yang luka.....